PCNU Sumenep Awali Hari Santri Nasional 2023 dengan Istigasah Keselamatan Lingkungan

Redaksi Nolesa

Senin, 2 Oktober 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep, NOLESA.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Madura, Jawa Timur gelar istigasah untuk keselamatan lingkungan. Acara ini bertempat di Pantai Bantelan, Kecamatan Batuputih, Senin 2 Oktober 2023.

Istigasah untuk keselamatan lingkungan yang digelar PCNU Sumenep sekaligus menjadi pembuka dari serangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2023 yang akan digelar selama satu bulan ke depan.

Sebelum melaksanakan istigasah untuk keselamatan lingkungan, acara tersebut diawali dengan Kirab Santri oleh ratusan kader GP Ansor dan Banser di 4 kecamatan, Gapura, Dungkek, Batang-Batang dan Batuputih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua PCNU Sumenep, KH A Pandji Taufiq mengatakan bahwa menjaga keselamatan lingkungan sangat penting. Mengingat, saat ini tengah dihadapkan dengan krisis pangan yang melanda 20 negara. Sehingga membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan adalah hal yang perlu diperhatikan oleh Nahdlatul Ulama.

“Kita tahu saat ini, semua negara tengah menghadapi krisis pangan. Bahkan isu lingkungan ini menjadi tema pembicaraan di konferensi antar pemimpin negara. KTT di Bali, KTT di India dan KTT ASEAN tak luput dari pembahasan soal krisis pangan. Maka NU juga harus demikian,” ungkap Kiai Pandji ketika ditemui awak media usai istigasah.

Baca Juga :  Ketua TP PKK Sumenep Dorong Madura Night Vaganza Jadi Panggung UMKM Perempuan

Kiai Pandji lantas menyebut, bahwa krisis pangan terjadi akibat dari kekeringan yang melanda. Sementara kekeringan disebabkan oleh pemanasan global. Maka yang biasanya banyak negara menjadi importir beras, saat ini sudah menahan pangan karena khawatir di negaranya sendiri kehabisan stok.

“Di Indonesia sendiri mau membeli beras ke luar negeri sangat sulit. Jadi tak ada salahnya NU membahas lingkungan,” imbuh Kiai Pandji.

Bila keselamatan lingkungan tak kunjung disadari bersama, lanjut Kiai Pandji, bukan tidak mungkin krisis pangan juga melanda Sumenep. Apalagi, saat ini di sejumlah wilayah di Sumenep juga tengah mengalami kekeringan.

“Mengapa kekeringan ini terjadi? Karena sekarang ini kita sudah menjadi tukang tebang. Bukan tukang tanam. Padahal para leluhur kita dulu sebaliknya. Banyak menanam daripada menebang,” terangnya.

Baca Juga :  Komisi IV DPRD Sumenep Merespon Wadul Nakes Honorer yang Perjuangkan Nasibnya

Ia pun berharap kepada seluruh elemen struktur dan kultur NU untuk bersama-sama menjaga keselamatan lingkungan. Salah satunya dengan menggalakkan penanaman pohon. Ia pun mendorong pengurus NU untuk bersama-sama memasifkan gerakan ini sebagai bentuk menjaga keselamatan lingkungan.

“Makanya salah satu rangkaian Hari Santri 2023 ini ada menanam pohon. Jika ini kita masif lakukan, InsyaAllah akan memberi dampak positif. Pengurus NU misalnya, mulai dari ranting sampai PC, satu orang menanam satu pohon, jumlahnya sekitar 2000. Apalagi jika bisa mengajak keluarga dan koleganya. Tentu sangat luar biasa,” pintanya.

Ketika ditanya kaitan antara Hari Santri Nasional 2023 dengan isu-isu lingkungan, Kiai Pandji menegaskan bahwa kesantrian dan lingkungan adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Baik secara ideologis maupun historis.

“Karena yang rajin menanam itu memang santri, dulunya. Yang dekat dengan lingkungan dan alam itu santri. Juga, kalau lingkungannya rusak, tentu pesantren tutup. Makanya, Hari Santri ini menjadi momen yang tepat untuk bersama-sama menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan lingkungan,” tegasnya.

Baca Juga :  SKK Migas-KEI Raih Penghargaan Bupati Sumenep atas Program Peningkatan Kompetensi Guru

Di tempat yang sama, Rais PCNU Sumenep, KH Hafidzi Sarbini dalam tausiyahnya menuturkan, bahwa Hari Santri selaras dengan nilai-nilai Islam yang ada dalam Al-Qur’an. Sebab hanya santri yang memiliki kaitan kuat dengan para ulama dan orang-orang alim.

Lebih jauh, lanjut Kiai Hafidzi, Hari Santri menjadi satu kesempatan penting bagi semua pihak untuk merefleksikan entitas kesantrian. Sebagai seorang santri, hendaknya tidak lupa untuk menghormati dan ta’dzik kepada orang-orang alim dan para ulama.

“Hormat dan ta’dzim kita sebagai santri, jangan hanya berlaku kepada mereka yang telah mengajarkan ilmu kepada kita. Tetapi seharusnya kepada semua ulama dan orang-orang alim, wajib kita hormati dan ta’dzimi,” ungkap Kiai Hafidzi saat menyampaikan tausiyah.


Penulis : Rusydiyono

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

Yogyakarta Jadi Tuan Rumah PIT IAGI ke-55 dan GEOSEA XIX 2026, Hadirkan Forum Geologi Asia Tenggara
Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton
Hari Sumpah Pemuda, Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan
Refleksi Hari Listrik Nasional, Bupati Sumenep Tekankan Pemerataan Akses Energi
BLK dan GP Ansor Sumenep Jalin Kerjasama Perkuat Keterampilan Kader Muda NU
Hadapi POPDA Jatim 2026, Atlet Sumenep Diminta Junjung Sportivitas
Bupati Sumenep Dorong Pelestarian Ayam Bekisar Lewat Lomba Nasional
Kopi Surga PC ISNU Sumenep, Sajikan Kopi Gratis di Malam Puncak HSN 2026

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 18:16 WIB

Yogyakarta Jadi Tuan Rumah PIT IAGI ke-55 dan GEOSEA XIX 2026, Hadirkan Forum Geologi Asia Tenggara

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:32 WIB

Hari Sumpah Pemuda, Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:38 WIB

Refleksi Hari Listrik Nasional, Bupati Sumenep Tekankan Pemerataan Akses Energi

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:55 WIB

Hadapi POPDA Jatim 2026, Atlet Sumenep Diminta Junjung Sportivitas

Berita Terbaru

Bupati Fauzi mengenakan baju adat keraton dalam sebuah acara (Foto: Istimewa)

Daerah

Pemkab Sumenep Lestarikan Budaya Lewat Baju Adat Keraton

Kamis, 29 Okt 2026 - 07:07 WIB