Napak Tilas, NU Kembali ke Kantor Lama

Redaksi Nolesa

Kamis, 17 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surabaya- NOLESA.COM — Salah satu rangkaian Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama Ke-99 secara Tahun Hijriah yakni para pengurus NU mengunjungi Kantor Hofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO).

Para pembesar organisasi islam terbesar yang berkunjung ke HBNO atau kantor lama PBNU di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis, 17 Februari 2022 itu meliputi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia.

Tujuan kunjungan dilakukan dalam rangka Napak Tilas Gedung HBNO sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Harlah Ke-99 Nahdlatul Ulama secara tahun Hijriyah atau Qamariyah. Sebagaimana diketahui, NU didirikan pada 16 Rajab 1344 H.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dikalungi surban oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya KH Mas Sulaiman. Gus Yahya juga dipayungi saat turun dari mobil sampai memasuki gedung.

Gus Yahya yang datang didampingi Sekretaris Jenderal PBNU H Saifullah Yusuf dan Bendahara Umum PBNU Mardani H Maming itu disambut pencak silat yang dimainkan Pendekar Pencak Silat Pagar Nusa.

Baca Juga :  Bantu Petani Bawang Merah, TNI Kolaborasi bersama Masyarakat Tingkatkan Ketahanan Pangan Indonesia

Saat ini, gedung tua tersebut digunakan sebagai kantor PCNU Kota Surabaya. Setelah sebelumnya sudah digunakan sebagai kantor PBNU sejak pendiriannya pada tahun 1926. Bahkan sebelum itu, gedung ini juga sudah digunakan sebagai kantor Syubbanul Wathan, organisasi sayap Nahdlatul Wathan.

PBNU memindahkan kantornya ke Pasuruan dan Madiun saat pecah perang 1945 hingga 1947 sebelum kembali pada tahun 1949. Kemudian kantor PBNU pindah ke Menteng Dalam Jakarta dan sejak tahun 1950-an sampai sekarang berkantor di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Gedung ini juga sempat digunakan sebagai tempat kongres pertama Ansor Nahdlotoel Oelama (ANO, kini Gerakan Pemuda Ansor) pada tahun 1936. Pada tahun 1945, tepatnya oada 22 Oktober, tempat ini juga menjadi saksi bisu dicetuskannya Resolusi Jihad menegakkan kemerdekaan NKRI.

Baca Juga :  Peringati HUT RI ke-77, IAA Talango Gelar Napak Tilas Kemerdekaan

Karena sarat akan sejarah itu, Pemerintah Kota Surabaya menetapkan gedung ini sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Walikota Nomor: 188.45/502/436.1.2/201 yang ditandatangani pada 11 Desember 2013.

Bangunan ini tampak terawat dengan tidak mengubah arsitekturnya yang khas bangunan zaman dahulu dengan jendela besar dan atap yang tinggi.

Dalam sambutannya, Gus Yahya menegaskan bahwa pergerakan ke masa depan tidak boleh tercerabut dari akar titik mulanya.

“Ketika kita mulai hendak bergerak untuk tujuan meraih masa depan, karena masa depan tidak boleh terlepas dari asal mulanya, ke manapun kita menuju untuk masa depan NU, tidak serorang pun boleh lupa bahwa di tempat inilah mulainya,” kata kakak Menteri Agama RI Gus Yaqut Cholil Qoumas itu.

Dalam menyampaikan sambutannya, tampak Gus Yahya berupaya menahan haru. Beberapa kali putra pertama KH Cholil Bisri itu terdiam cukup lama dengan matanya yang mengembang.

Baca Juga :  Cukup Siapkan Nama, NIK dan Akta Bayi Baru Lahir Langsung Keluar

Ia seakan hanyut dibawa masa lalu. Seolah di matanya, tampak jelas para pendiri duduk menyaksikannya atau sedang bermusyawarah merumuskan masa depan agama dan bangsa yang amat mereka cintai dengan penuh setia.

“Kalau kita berpikir tentang kesetiaan, tentang perjuangan, di tempat inilah kesetiaan itu ditambatkan,” ujarnya.

“Kalau kita bermimpi masa depan di tempat inilah mimpi itu mula-mula dihidupkan,” lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang, Jawa Tengah itu.

Gus Yahya seakan merasakan energi-energi spiritual yang memenuhi ruangan, tempat para pendiri NU dahulu mencurahkan segala daya dan upayanya untuk kemaslahatan bersama.

“Datang ke tempat ini, melihat ruangan ini, merasakan suasana di dalamnya, apalagi kalau kita mengerahkan kepekaan spiritual kita, kita akan menangkap energi apa, kekuatan apa yang telah menggelindingkan NU yang kita nikmati hari ini setelah 99 tahun ke depan,” tutup Gus Yahya (*)

Penulis : Arif 

Editor : Dimas

Berita Terkait

Tingkatkan Literasi Siswa, PBSI UNY Latih Guru SMP Kulon Progo Susun Perangkat Pembelajaran Berbasis Deep Learning
Gubernur Khofifah Apresiasi Peran JMSI Jatim dalam Penguatan Media
Ratna Juwita: Perdamaian AS-Iran Jadi Peluang Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Said Abdullah Tegaskan PDIP sebagai Partai Penyeimbang Pemerintah
Pemkab Sumenep Launching Logo Hari Jadi ke-758
Polres Sumenep Rayakan Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dengan Berbagi kepada Pemulung
Wakil Bupati Sumenep Salurkan Bantuan kepada Korban Kebakaran di Giligenting
DPRD Trenggalek Perjuangkan PPPK Tak Terdampak Pembatasan Belanja Pegawai

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:48 WIB

Tingkatkan Literasi Siswa, PBSI UNY Latih Guru SMP Kulon Progo Susun Perangkat Pembelajaran Berbasis Deep Learning

Senin, 22 Juni 2026 - 21:59 WIB

Gubernur Khofifah Apresiasi Peran JMSI Jatim dalam Penguatan Media

Minggu, 21 Juni 2026 - 20:02 WIB

Ratna Juwita: Perdamaian AS-Iran Jadi Peluang Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:40 WIB

Said Abdullah Tegaskan PDIP sebagai Partai Penyeimbang Pemerintah

Jumat, 19 Juni 2026 - 23:02 WIB

Polres Sumenep Rayakan Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dengan Berbagi kepada Pemulung

Berita Terbaru

Suara Perempuan

Nyaman dalam Ketakutan

Minggu, 21 Jun 2026 - 11:17 WIB