Kisah Pilu Warga Pagerungan Tempat Kaya Migas

Redaksi Nolesa

Rabu, 25 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pagerungan Sumenep

Pagerungan Sumenep

SUMENEP, NOLESA.COM – Sejak 1993 silam, warga Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep sudah terbiasa dengan gemuruh pengeboran migas.

Di pulau itu, eksploitasi salah satu ladang migas terbesar di ujung timur Madura dimulai. Di balik dentuman mesin dan arus miliaran dolar yang mengalir ke kas negara dan perusahaan, getir dirasakan masyarakat setempat.

Lebih dari tiga dekade, energi bumi terus dikuras, namun pertanyaan sederhana tetap menggantung: apa yang rakyat setempat dapat?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga kini, wajah Sapeken masih memprihatinkan. Akses air bersih terbatas, listrik tak merata, transportasi laut seadanya, dan bangunan sekolah banyak yang rusak. Produksi migas yang dulu digembar-gemborkan kini tinggal angka.

Data Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM menunjukkan produksi minyak Blok Pagerungan terus merosot: dari 68 BOPD pada 2020 menjadi 64 BOPD di 2021, dan anjlok ke 55 BOPD pada 2022.

Baca Juga :  Satpol PP Sumenep Sukses Gelar Forum Tatap Muka Sosialisasi Ketentuan Tentang Cukai Rokok DBHCHT

Di depan mata mereka, kapal-kapal pengangkut energi hilir mudik. Tapi tak pernah benar-benar jelas apa yang menjadi hak warga atas kekayaan alam yang dikuras dari bawah tanah mereka.

Seiring merosotnya produksi di Pagerungan Besar, PT Kangean Energi Indonesia (KEI) Ltd kini mengalihkan fokus ke ladang baru: Blok Terang Sirasun Batur (TSB) yang lokasinya tak jauh dari Pagerungan. Namun, warga khawatir sejarah kelam kembali berulang.

“Kami sudah 30 tahun cuma jadi penonton. Yang kaya Jakarta, yang rusak kami,” kata Ketua Masyarakat Urban Kangean-Bali, Rahman Fauzan, Rabu, 25 Juni 2025.

Fauzan menyebut banyak alasan mengapa warga menolak survei seismik dan rencana eksploitasi migas di Pulau Kangean. Risiko pencemaran laut, kerusakan ekosistem, hingga hilangnya mata pencaharian nelayan bukan lagi sekadar kekhawatiran.

Baca Juga :  Bupati Sumenep Pantau Pelaksanaan TKA 2026

“Itu sudah nyata terjadi,” ujarnya.

Ia mengingatkan, aktivitas pertambangan di pulau kecil secara tegas dilarang. UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menegaskan bahwa prioritas pemanfaatan pulau kecil adalah untuk konservasi, pendidikan, perikanan lestari, dan pertahanan negara — bukan untuk pertambangan.

“Pulau Kangean hanya 648,6 kilometer persegi, jelas masuk kategori pulau kecil. Harusnya dilindungi, bukan dieksploitasi,” kata Fauzan.

Pasal 35 huruf (j) UU tersebut melarang aktivitas migas yang secara teknis, ekologis, sosial, atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan atau merugikan masyarakat. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-XXI/2023 semakin memperkuat larangan tersebut.

Fauzan juga menyoroti persoalan AMDAL yang wajib sah dan melibatkan masyarakat secara partisipatif.

Baca Juga :  Kabag Prokopim Setdakab Sumenep Sampaikan Tahapan Menuju Pelantikan Bupati dan Wabup Terpilih

“Jangan sampai izin hanya formalitas, masyarakat jadi korban,” katanya.

Ia bahkan mengingatkan pemerintah agar tak mengulangi tragedi lingkungan seperti yang terjadi di Republik Nauru.

“Jangan tunggu bencana datang dulu baru menyesal,” ujarnya.

Pihak PT Kangean Energi Indonesia (KEI) memilih irit bicara. Agus Indra Prihadi menolak memberikan keterangan ketika dihubungi media, dan meminta agar wartawan mengonfirmasi langsung kepada manajernya, Kampoi Naibaho.

“Mohon maaf om, saya sedang di luar. Nanti kami pelajari dulu dan koordinasikan secara internal,” kata Kampoi saat dimintai tanggapan, Rabu, 25 Juni 2025.

Sementara itu, Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Kabupaten Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, juga belum bersedia memberi penjelasan. “Besok sore, bro,” katanya.(*)

Berita Terkait

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran
Kang Cucun Ajak Santri Melek Teknologi dan AI Saat Hadir di Cipasung
Tim PkM FBSB UNY Perkuat Pengetahuan Ekologi Tradisional di Kalangan Pelajar
UKM PSHT UTM Gelar Pelatihan Bela Diri Praktis dan Bantuan Hidup Dasar
Soroti Tata Kelola MBG, Politikus Madura Minta Kasus di BGN Jadi Pelajaran
Mahasiswa Universitas Annuqayah Madura Raih Prestasi Nasional di Ajang Business Plan
SPMB Tahun ini, Sekdaprov Riau Tegaskan Tak Ada Intervensi
Puteri Indonesia 2026 Siap Jadi Garda Depan Sosialisasi PP Tunas

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 21:51 WIB

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran

Minggu, 7 Juni 2026 - 21:00 WIB

Kang Cucun Ajak Santri Melek Teknologi dan AI Saat Hadir di Cipasung

Minggu, 7 Juni 2026 - 20:39 WIB

Tim PkM FBSB UNY Perkuat Pengetahuan Ekologi Tradisional di Kalangan Pelajar

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:27 WIB

Soroti Tata Kelola MBG, Politikus Madura Minta Kasus di BGN Jadi Pelajaran

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:09 WIB

Mahasiswa Universitas Annuqayah Madura Raih Prestasi Nasional di Ajang Business Plan

Berita Terbaru

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran (kolase foto)

Pendidikan

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran

Minggu, 7 Jun 2026 - 21:51 WIB

(for NOLESA.COM)

Cerpen

Penunggu di Ujung Malam

Minggu, 7 Jun 2026 - 08:10 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Renata Xalisa Putri

Minggu, 7 Jun 2026 - 07:57 WIB