SUMENEP, NOLESA.COM – Keputusan mengambil pembiayaan perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak berubah menjadi beban keuangan. PT BPRS Bhakti Sumekar (Perseroda) mengingatkan masyarakat untuk memastikan utang digunakan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengejar tren atau mempertahankan gaya hidup.
Pesan tersebut disampaikan melalui kampanye literasi keuangan bertajuk “Utangmu untuk Kebutuhan atau Gengsi?” yang dipublikasikan melalui akun Instagram resmi BPRS Bhakti Sumekar.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, mengatakan pembiayaan pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan tujuan yang jelas serta kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembayaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Berutang bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus dilakukan secara bijak dan sesuai kebutuhan. Pembiayaan akan memberikan manfaat apabila digunakan untuk hal-hal yang produktif maupun kebutuhan yang benar-benar penting,” ujar Hairil Fajar, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menyebut sejumlah kebutuhan yang dapat dipertimbangkan melalui pembiayaan, antara lain pendidikan, kesehatan, pengembangan usaha, maupun keperluan mendesak yang sudah direncanakan sebelumnya.
Sebaliknya, masyarakat diminta lebih berhati-hati terhadap utang yang muncul karena dorongan konsumtif. Membeli barang hanya karena sedang tren, mengganti telepon genggam meski masih layak digunakan, berbelanja melebihi kemampuan, hingga mengeluarkan uang demi menjaga gengsi dinilai berisiko mengganggu kondisi keuangan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari kebiasaan berutang hanya demi mengikuti tren, membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan, berbelanja secara berlebihan, ataupun untuk kebutuhan yang hanya bertujuan menjaga gengsi,” katanya.
Hairil menekankan pentingnya melakukan evaluasi sebelum mengajukan pembiayaan. Masyarakat perlu mengetahui secara pasti tujuan penggunaan dana sekaligus menghitung kemampuan membayar angsuran agar tidak mengganggu kebutuhan pokok.
“Sebelum memutuskan berutang, tanyakan pada diri sendiri apakah pembiayaan tersebut benar-benar untuk kebutuhan atau hanya sekadar ingin terlihat memiliki. Keputusan yang tepat akan menciptakan ketenangan finansial di masa depan,” jelasnya.
Menurut Hairil, utang tidak selalu berdampak negatif apabila dikelola secara bertanggung jawab. Pembiayaan justru dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan penting atau mengembangkan kegiatan produktif selama perhitungannya dilakukan dengan cermat.
Karena itu, BPRS Bhakti Sumekar terus mendorong terbentuknya kebiasaan pengelolaan keuangan yang sehat. Masyarakat diharapkan mampu membedakan antara kebutuhan yang memiliki manfaat nyata dan keinginan yang muncul karena tekanan tren maupun lingkungan sosial.
Kampanye tersebut juga menjadi bagian dari dukungan BPRS Bhakti Sumekar terhadap Bulan Literasi Keuangan 2026 dan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) 2026.
Melalui edukasi tersebut, BPRS Bhakti Sumekar berharap pemahaman masyarakat terhadap pembiayaan semakin baik, sehingga setiap keputusan keuangan dapat dibuat secara rasional, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan kondisi finansial. (*)
Penulis : Rusydiyono









