Arif Firmanto, Rini, dan Jalan Sunyi Menuju PPPK Paruh Waktu

Redaksi Nolesa

Selasa, 2 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo saat menyerahkan SK kepada PPPK paruh waktu pada Senin, 1/12/2025 (Foto: Ist)

Bupati Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo saat menyerahkan SK kepada PPPK paruh waktu pada Senin, 1/12/2025 (Foto: Ist)

SUMENEP, NOLESA.COM – Gemuruh tepuk tangan bergema di GOR A. Yani Panglegur kali ini bukan tentang bola, tetapi tentang SK PPPK Paruh Waktu yang dinantikan ribuan tenaga honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi dan menanti kepastian pemerintah.

Senin pagi, 1 Desember 2025, menjadi awal dari segala harap yang hampir pupus begitu saja. SK pengangkatan PPPK Paruh Waktu menjadi suluh untuk memantapkan pengabdiannya sepanjang waktu.

Di luar gelangang pun begitu, tak kalah sama penonton sepak bola. Ribuan pasang mata terlihat tersenyum sumringah. Mereka bersorak ria menyaksikan orang-orang terkasihnya menerima SK PPPK Paruh Waktu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu dari mereka yang panggilan namanya dinanti oleh sanak keluarga adalah Rini Antika, 36 tahun. Ibu dua anak itu memeluk erat map merah berisi SK yang telah ia nantikan selama hampir dua dekade: surat pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.

Baca Juga :  Pemkab Sumenep Libatkan Siswa pada Gema Takbir Idul Adha 1444 H

Sejak 2009, Rini mengabdi sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Batu Putih, salah satu wilayah pelosok di utara Sumenep. Jalan berbatu, akses transportasi terbatas, hingga listrik yang kadang tak pasti, menjadi bagian dari kesehariannya melayani warga desa. “Sudah seperti rumah kedua,” katanya pelan.

Selama 17 tahun bekerja sebagai nakes honorer, status “non-ASN” baginya bukan sekadar label, tetapi ketidakpastian yang terus menempel. Ia tetap bertahan: berangkat sebelum matahari naik, pulang ketika malam sudah tua. Gajinya tak seberapa, tapi rasa tanggung jawabnya jauh lebih besar.

Hari itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyerahkan SK pengangkatan PPPK paruh waktu kepada 5.224 tenaga honorer. Rini menjadi salah satunya. Baginya, momen itu seperti pintu panjang yang akhirnya terbuka.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati. Beliau telah menandatangani satu keputusan besar untuk masa depan ribuan honorer yang kami tunggu bertahun-tahun,” ucapnya, menahan suara yang bergetar.

Baca Juga :  Bupati Achmad Fauzi Borong 2 Penghargaan di Ajang BKN Awards 2023

Namun di balik kebahagiaan itu, tersimpan rentetan cerita perjuangan. Rini bercerita bahwa proses menuju pengangkatan PPPK paruh waktu dipenuhi dinamika. Ia dan teman-temannya bolak-balik rapat, menyusun data, menyiapkan berkas, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Di tengah perjalanan itu, ada satu sosok yang disebut Rini sebagai “energi penyemangat”: Arif Firmanto, Plt. Kepala BKPSDM Sumenep yang juga menjabat sebagai Kepala Bappeda.

“Selain kepada Bapak Bupati, kami juga sangat berterima kasih kepada Bapak Arif Firmanto yang selama ini setia mendampingi perjuangan kami. Tanpa arahan dan bimbingannya, kami mungkin tidak bisa seperti sekarang,” ujarnya.

Rini mengingat betul malam-malam panjang ketika Arif mendampingi mereka berdiskusi hingga lewat pukul 12 malam.

“Padahal beliau sangat sibuk. Tapi tetap meluangkan waktu untuk kami. Tulus sekali,” katanya.

Baginya, keputusan Bupati menugaskan Arif mengawal proses PPPK paruh waktu adalah langkah yang sangat tepat. “Terima kasih Bapak Bupati telah bijaksana mengirim Bapak Arif di setiap jengkal proses ini,” ucapnya.

Baca Juga :  Kebijakan PPKM Resmi Dicabut

Menyaksikan ribuan honorer mengangkat SK mereka hari itu, mata Rini berkaca-kaca. Perjalanan panjangnya seolah diputar kembali: hari-hari menembus hujan menuju puskesmas, malam-malam menenangkan anaknya yang menanyakan mengapa ibunya pulang terlambat, hingga keraguan yang kadang menyelinap—apakah semua ini akan terbayar?

Kini, setelah 17 tahun, ia merasa jawabannya akhirnya datang.

“Ini bukan akhir perjuangan,” katanya sambil tersenyum. “Ini awal dari perjalanan baru, yang lebih pasti untuk kami dan keluarga.”

Di Pelosok Batu Putih, besok pagi Rini akan kembali bekerja seperti biasa. Namun langkahnya kali ini terasa lebih ringan. Ada status baru yang ia bawa pulang—dan lebih dari itu, ada martabat yang selama ini ia jaga dengan penuh kesabaran. (*)

Penulis : Rusydiyono

Berita Terkait

Profil Abdul Kholiq Suhri: Advokat Bondowoso Di Balik Gugatan MK Soal MBG
Bupati Sumenep Wajibkan Tamu Luar Daerah Diberi Hadiah Keris
Bupati Sumenep Tetapkan Harga Impas Tembakau 2026, Lindungi Petani dari Harga Rendah
Pemkot Batam Perluas Akses Beasiswa, Anak Hinterland Kini Tembus Kampus-Kampus Terbaik Indonesia
Jangan Terkecoh Konten Viral! Pakar Siber Beberkan Alasan Konten Bisa Dihapus
SKK V Resmi Dibuka, Kopri PMII Sumenep Siapkan Kader Perempuan Pelopor Perubahan Sosial
IKA UNIJA Madura Kaji Wacana Kabupaten Kepulauan Sumenep Lewat Forum Akademik
Kapolresta Ariek Perkuat Sinergi dengan Insan Pers, Kunjungi Kantor PWRI Sumenep

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 10:43 WIB

Profil Abdul Kholiq Suhri: Advokat Bondowoso Di Balik Gugatan MK Soal MBG

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:03 WIB

Bupati Sumenep Wajibkan Tamu Luar Daerah Diberi Hadiah Keris

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:29 WIB

Bupati Sumenep Tetapkan Harga Impas Tembakau 2026, Lindungi Petani dari Harga Rendah

Jumat, 7 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Pemkot Batam Perluas Akses Beasiswa, Anak Hinterland Kini Tembus Kampus-Kampus Terbaik Indonesia

Kamis, 6 Agustus 2026 - 22:30 WIB

SKK V Resmi Dibuka, Kopri PMII Sumenep Siapkan Kader Perempuan Pelopor Perubahan Sosial

Berita Terbaru