SUMENEP, NOLESA.COM – Peringatan Hari Maritim Nasional yang diperingati setiap 19 Agustus menjadi momentum untuk melihat kembali posisi sektor kelautan sebagai bagian penting dalam pembangunan Kabupaten Sumenep.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., mengatakan karakteristik Sumenep sebagai wilayah dengan kawasan daratan dan kepulauan membuat sektor maritim memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah.
Menurut Arif, laut tidak semestinya hanya dipandang sebagai jalur penghubung antarpulau. Ruang laut juga menyimpan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Peringatan Hari Maritim Nasional menjadi momentum bagi kita untuk melihat laut bukan hanya sebagai jalur transportasi, tetapi sebagai kekuatan ekonomi yang harus dikelola secara berkelanjutan,” kata Kaban Arif, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menyebut sejumlah potensi yang dapat dikembangkan melalui sektor maritim, mulai dari perikanan tangkap, budidaya, pengolahan hasil laut, garam, pariwisata bahari hingga jasa transportasi laut.
Namun, pengembangan sektor tersebut membutuhkan perencanaan yang terintegrasi. Infrastruktur, konektivitas antarpulau, kualitas sumber daya manusia, akses pembiayaan, teknologi, hingga pemasaran menjadi faktor yang harus diperhatikan secara bersama-sama.
Arif menilai penguatan sektor maritim juga harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Produk hasil laut, misalnya, tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah, tetapi perlu didorong menuju proses pengolahan agar membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru.
“Yang kita dorong bukan sekadar peningkatan produksi, tetapi bagaimana potensi kelautan memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ekonomi daerah,” ujarnya.
Di sisi lain, pembangunan maritim harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Pemanfaatan sumber daya laut perlu dilakukan secara bijak agar potensi tersebut tetap tersedia bagi generasi berikutnya.
Arif menegaskan, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mengembangkan sektor maritim. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, nelayan, pelaku usaha, akademisi, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Sumenep memiliki modal maritim yang besar. Tantangannya adalah bagaimana modal tersebut kita kelola menjadi kekuatan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (*)
Penulis : Rusydiyono









