Novita Hardini Bumikan Ajaran Megawati dalam Merawat Pratiwi

Redaksi Nolesa

Senin, 22 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novita Hardini soft launching program Perempuan Sarinah di Trenggalek, Minggu 21/12/2025 (Foto: Ist)

Novita Hardini soft launching program Perempuan Sarinah di Trenggalek, Minggu 21/12/2025 (Foto: Ist)

TRENGGALEK, NOLESA.COM – Indonesia kini telah memasuki fase krisis iklim yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu global yang bersifat abstrak, melainkan ancaman nyata yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat hingga tingkat lokal.

Anggota DPR RI, Novita Hardini, menegaskan bahwa tantangan krisis iklim harus dijawab melalui kebijakan yang menyentuh akar persoalan. Menurutnya, upaya pengendalian perubahan iklim perlu dimulai dari sektor-sektor yang paling memungkinkan ditangani di daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan peta emisi di Kabupaten Trenggalek, Novita menjelaskan bahwa sumber emisi terbesar berasal dari tiga sektor utama, salah satunya sektor pertanian. Sektor ini menjadi penyumbang emisi paling signifikan akibat penggunaan pupuk kimia secara masif dan berkelanjutan.

“Karena itu, tugas utama kita hari ini adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara nyata dan terukur, dimulai dari sektor yang paling mungkin ditangani di daerah, yaitu pengolahan limbah organik, seperti limbah dari SPPG dan Dapur MBG,” tegasnya.

Baca Juga :  Satpol PP Sumenep Sosialisasikan UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai Rokok

Ia menyampaikan bahwa langkah tersebut sejalan dengan agenda strategis Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional pada 2026.

Menurut Novita, ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan tanah, air, serta keberlanjutan ekosistem pertanian.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi beras atau jagung, tetapi bagaimana kita merawat sumber-sumber kehidupan agar pertanian tetap produktif untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Novita menekankan bahwa pengolahan limbah organik merupakan solusi strategis yang mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni menurunkan emisi gas rumah kaca dan memperkuat kemandirian pangan rakyat. Selain berdampak pada lingkungan, langkah ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Baca Juga :  Puskesmas Pembantu Longos Bersama Remas Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Lebih lanjut, legislator perempuan satu-satunya dari Dapil VII Jawa Timur itu mengungkapkan bahwa sektor pertanian menyumbang sekitar 40 persen emisi, terutama dari penggunaan pupuk kimia berbasis nitrogen (NPK) yang menghasilkan gas dinitrogen oksida (N₂O), salah satu gas rumah kaca paling berbahaya.

Sebagai solusi, ia mendorong integrasi pupuk kimia dan pupuk organik hasil pengolahan sampah dengan target bauran dari 100 persen pupuk kimia menjadi 60 persen pupuk kimia dan 40 persen pupuk organik.

Skema ini menurut Novita dinilai mampu menurunkan emisi secara signifikan, menjaga kesehatan tanah dan air, serta menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan tangguh.

Dalam konteks tersebut, Novita menyebut program Perempuan Sarinah (Selesaikan Sampah Organik dan Limbah) sebagai pendekatan pembangunan yang memandang krisis iklim bukan semata ancaman, melainkan peluang transformasi sosial dan ekonomi.

Baca Juga :  Budaya Mutu Jadi Kunci RSUD Sumenep Tingkatkan Layanan Kesehatan

“Orang lain melihat ini sebagai krisis, tetapi Perempuan Sarinah melihatnya sebagai peluang,” kata Novita saat soft launching program tersebut di Trenggalek, Minggu, 21 Desember 2025.

Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Trenggalek, Novita menekankan peran strategis perempuan sebagai garda terdepan dalam pengolahan limbah organik, produksi pupuk ramah lingkungan, serta penguatan ekonomi keluarga dan desa. Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan lapangan kerja hijau sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi rakyat.

Ia juga menyebut Trenggalek sebagai ruang bertemunya visi ketahanan pangan nasional dan nilai-nilai pelestarian lingkungan, yang diwujudkan melalui penguatan kearifan lokal dan pemberdayaan perempuan sebagai penjaga alam dan kehidupan.

“Ketika agenda lingkungan berjalan seiring dengan ekonomi rakyat, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Inilah arah pembangunan yang berkeadilan, berdaulat, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

Penulis : Arif

Berita Terkait

Tekan Persoalan Sampah, KKN Posko 43 Bangun Rocket Stove di PP Mis Annibros I
BM PAN Periode 2026–2031 Gelar Meet and Greet, Teguhkan Soliditas dan Satu Komando
SSIC Resmi Berdiri di Kota Yogya, Disiapkan Jadi Pusat Dakwah dan Kegiatan Islam
Daftar Anggota DPRD Partai Hanura di Madura
Mengapa Purbaya Dipecat? Ini Kata Ekonom
Elektabilitas PAN Capai 5,6 Persen, BM PAN Dorong Kader Perkuat Kerja Nyata
Bupati Ipuk Perkuat Pendidikan Spiritual Lewat Insentif Guru Rohani
Novita Hardini Dorong Hilirisasi Komoditas Pertanian dan Penguatan UMKM di Tapanuli Utara

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 16:11 WIB

Tekan Persoalan Sampah, KKN Posko 43 Bangun Rocket Stove di PP Mis Annibros I

Rabu, 16 September 2026 - 11:02 WIB

BM PAN Periode 2026–2031 Gelar Meet and Greet, Teguhkan Soliditas dan Satu Komando

Selasa, 15 September 2026 - 11:34 WIB

SSIC Resmi Berdiri di Kota Yogya, Disiapkan Jadi Pusat Dakwah dan Kegiatan Islam

Senin, 14 September 2026 - 20:18 WIB

Daftar Anggota DPRD Partai Hanura di Madura

Senin, 14 September 2026 - 14:59 WIB

Elektabilitas PAN Capai 5,6 Persen, BM PAN Dorong Kader Perkuat Kerja Nyata

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Psychological Safety

Rabu, 16 Sep 2026 - 15:52 WIB

Politik

Daftar Anggota DPRD Partai Hanura di Madura

Senin, 14 Sep 2026 - 20:18 WIB