Pedoman Berpolitik bagi Umat Muslim

Redaksi Nolesa

Sabtu, 29 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Politik, NOlESA.COM – Politik merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat modern, termasuk bagi umat Muslim.

Dalam konteks demokrasi seperti di Indonesia, partisipasi politik umat Muslim seperti dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) menjadi sebuah keharusan untuk memastikan bahwa nilai-nilai Islam dapat terwakili dalam kebijakan publik yang berkeadilan.

Namun, partisipasi ini harus didasarkan pada pedoman-pedoman yang sesuai dengan ajaran Islam, yang menekankan pada etika, keadilan, dan kepentingan umat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Niat yang Tulus

Niat yang ikhlas adalah kunci utama dalam berpolitik bagi umat Muslim. Dalam Islam, setiap tindakan harus didasari oleh niat yang baik dan ikhlas karena Allah SWT.

Niat dalam berpolitik haruslah untuk mencari ridha Allah, memperjuangkan keadilan, dan membawa kemaslahatan bagi umat.

Politik bukanlah arena untuk mencari kekuasaan semata atau keuntungan pribadi, melainkan alat untuk mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu kesejahteraan dan keadilan sosial.

2. Mengutamakan Calon Pemimpin yang Berintegritas

Dalam konteks pemilihan, umat muslim harus memiliki integritas untuk memilih pemimpin yang berintegritas.

Dalam Islam, pemimpin haruslah orang yang amanah, jujur, dan memiliki kemampuan untuk memimpin.

Dalam konteks Pilkada, umat Muslim harus cermat dalam memilih calon kepala daerah. Mereka harus menilai berdasarkan track record, visi dan misi, serta komitmen calon terhadap nilai-nilai Islam dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  PDIP Menginginkan Kelompok Religius-Nasionalis Bersatu di Pilkada Jatim

Rasulullah SAW menegaskan pentingnya memilih pemimpin yang adil dan bertanggung jawab, sebagaimana dalam hadits yang berbunyi, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

3. Jangan Memecah Belah Umat

Menjaga persatuan dan menghindari fitnah serta perpecahan adalah prinsip yang harus dipegang teguh.

Politik sering kali memicu konflik dan perpecahan, terutama di masa-masa kampanye Pilkada.

Umat Muslim harus menghindari tindakan yang dapat memicu fitnah, provokasi, dan perpecahan di tengah masyarakat.

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk selalu menjaga ukhuwah Islamiyah dan persatuan, serta menghindari segala bentuk kebohongan dan fitnah yang dapat merusak tatanan sosial.

4. Santun dan Beradab

Berpolitik harus menggunakan cara yang santun dan beradab. Islam mengajarkan akhlak yang mulia dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam berpolitik.

Kampanye politik harus dilakukan dengan cara-cara yang santun, tanpa menyebarkan fitnah, hoaks, atau melakukan black campaign.

Umat Muslim harus mencontoh akhlak Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan sesama, termasuk dengan lawan politik.

Menghormati perbedaan pendapat dan berdiskusi dengan cara yang baik adalah bagian dari etika politik yang harus dijunjung tinggi.

Baca Juga :  AHY: Indonesia Butuh Perubahan dan Perbaikan

5. Ikut Mengawasi

Berperan aktif dalam proses pengawasan dan evaluasi kinerja pemimpin.

Setelah Pilkada usai dan pemimpin terpilih menjalankan tugasnya, umat Muslim harus tetap berperan aktif dalam mengawasi dan mengevaluasi kinerja pemimpin tersebut.

Kritik yang konstruktif dan partisipasi dalam musyawarah atau forum-forum publik adalah bentuk tanggung jawab umat Muslim dalam memastikan bahwa pemimpin yang terpilih menjalankan amanah dengan baik.

Islam mengajarkan konsep amar ma’ruf nahi munkar, yang berarti mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, termasuk dalam konteks politik dan pemerintahan.

6. Memperkuat Literasi Politik

Umat Muslim harus meningkatkan pemahaman mereka tentang politik dan pemerintahan melalui pendidikan politik yang baik.

Literasi politik yang kuat akan membantu umat Muslim untuk lebih kritis dan bijaksana dalam berpartisipasi dalam proses politik.

Pendidikan politik juga penting untuk membangun kesadaran tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik, serta untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi dan keadilan.

7. Memanfaatkan Teknologi dengan Bijak

Memanfaatkan teknologi dan media sosial dengan bijak.

Di era digital saat ini, teknologi dan media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam proses politik.

Umat Muslim harus bijak dalam memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan informasi yang benar, mendukung kampanye yang positif, dan mengedukasi masyarakat.

Baca Juga :  Kampanye Terakhir, Politisi Muda PKB Optimis AMIN Menang

Hindari penggunaan media sosial untuk menyebarkan kebencian, hoaks, atau provokasi yang dapat merusak persatuan dan keharmonisan masyarakat.

8. Membangun Kolaborasi

Membangun jaringan dan kolaborasi yang kuat. Politik tidak bisa dijalankan sendirian; diperlukan kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat, tokoh agama, dan komunitas lainnya.

Umat Muslim harus aktif dalam membangun jaringan yang kuat dan menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai pihak untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan sinergi dan memperkuat posisi umat Muslim dalam kancah politik.

9. Optimistis dan Tawakal kepada Allah

Selalu bersikap optimis dan tawakal kepada Allah. Berpolitik, seperti halnya aspek kehidupan lainnya, memerlukan sikap optimis dan ketawakalan kepada Allah SWT.

Umat Muslim harus selalu berusaha dengan sebaik-baiknya, tetapi juga harus menyadari bahwa hasil akhir ada di tangan Allah.

Sikap optimis dan tawakal ini akan memberikan kekuatan dan ketenangan batin dalam menghadapi berbagai dinamika politik.

Dengan mengikuti pedoman-pedoman ini, diharapkan umat Muslim dapat berpartisipasi dalam politik, khususnya dalam Pilkada, dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam.

Penulis : Lailur Rahman

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

Apa yang Dimaksud Hak Uji Materiil (HUM) di Mahkamah Agung?
PDIP, PKB, dan NasDem Masih Intens Komunikasi Siapkan Figur Bacagub Jatim
Perbedaan Uji Materiil dan Formil di MK
Bukan Bahas Koalisi, Sekretaris DPC PKB Sumenep Jelaskan Foto Bersama Pimpinan Parpol dengan Bupati H. Fauzi
Deklarasi Bacabup Sumenep Jadi Kado Spesial Harlah PKB ke-26, Ini Dia Sosoknya
Berikut 11 Bacakada di Jatim yang Telah Kantongi Surat Tugas DPP PDI Perjuangan
PKB Deklarasikan Bacabup Sumenep Awal Juli, Direktur Jong Sumekar: Itu Pepesan Kosong
Setelah PAN, H Achmad Fauzi Wongsojudo Dapat Dukungan dari PBB untuk Maju di Pilkada Sumenep

Berita Terkait

Rabu, 17 Juli 2024 - 17:17 WIB

Apa yang Dimaksud Hak Uji Materiil (HUM) di Mahkamah Agung?

Selasa, 16 Juli 2024 - 11:05 WIB

PDIP, PKB, dan NasDem Masih Intens Komunikasi Siapkan Figur Bacagub Jatim

Senin, 15 Juli 2024 - 20:24 WIB

Perbedaan Uji Materiil dan Formil di MK

Senin, 15 Juli 2024 - 14:35 WIB

Bukan Bahas Koalisi, Sekretaris DPC PKB Sumenep Jelaskan Foto Bersama Pimpinan Parpol dengan Bupati H. Fauzi

Kamis, 11 Juli 2024 - 14:55 WIB

Deklarasi Bacabup Sumenep Jadi Kado Spesial Harlah PKB ke-26, Ini Dia Sosoknya

Selasa, 9 Juli 2024 - 01:18 WIB

Berikut 11 Bacakada di Jatim yang Telah Kantongi Surat Tugas DPP PDI Perjuangan

Minggu, 7 Juli 2024 - 14:00 WIB

PKB Deklarasikan Bacabup Sumenep Awal Juli, Direktur Jong Sumekar: Itu Pepesan Kosong

Sabtu, 6 Juli 2024 - 14:00 WIB

Setelah PAN, H Achmad Fauzi Wongsojudo Dapat Dukungan dari PBB untuk Maju di Pilkada Sumenep

Berita Terbaru