SUMENEP, NOLESA.COM – Peringatan Hari Insinyur Sedunia menjadi momentum untuk merefleksikan kembali peran strategis profesi insinyur dalam menjawab tantangan pembangunan. Insinyur tidak hanya dituntut mampu melahirkan inovasi dan teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab memastikan setiap gagasan pembangunan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., menilai profesi insinyur memiliki posisi penting dalam mewujudkan pembangunan yang terencana, adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.
Menurutnya, perkembangan zaman menuntut insinyur untuk tidak sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memahami kebutuhan masyarakat serta karakteristik wilayah. Hal tersebut menjadi penting bagi Kabupaten Sumenep yang memiliki wilayah daratan dan kepulauan dengan tantangan pembangunan yang beragam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Insinyur harus mampu menghadirkan solusi yang tidak hanya tepat secara teknis, tetapi juga tepat guna, sesuai kebutuhan masyarakat dan karakteristik daerah. Teknologi harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” ujar Kaban Arif Firmanto.
Ia mengatakan, pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Peran insinyur perlu ditempatkan dalam ekosistem pembangunan yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai profesi lainnya.
Bagi Sumenep, kata Kaban Arif, tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks, mulai dari penguatan infrastruktur, konektivitas wilayah kepulauan, pengelolaan lingkungan, transformasi digital, hingga pengembangan ekonomi masyarakat. Karena itu, inovasi dan pendekatan berbasis data menjadi bagian penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan.
“Perencanaan pembangunan harus berbasis data, inovasi dan kebutuhan nyata masyarakat. Di sinilah kompetensi insinyur dapat memberikan kontribusi besar, terutama dalam menghadirkan solusi yang efektif, efisien dan berkelanjutan,” katanya.
Arif juga menekankan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus diiringi tanggung jawab dan etika. Menurutnya, inovasi tidak boleh kehilangan orientasi kemanusiaan.
Hari Insinyur Sedunia, lanjutnya, bukan sekadar seremoni, melainkan kesempatan untuk memperkuat komitmen profesi insinyur dalam mengabdikan ilmu pengetahuan bagi pembangunan.
“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang insinyur bukan hanya pada karya yang dibangun, tetapi pada seberapa besar karya tersebut memberi manfaat, meningkatkan kesejahteraan dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkasnya. (yon/RA)






