SUMENEP, NOLESA.COM – Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, pernah meraih Penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto pada tahun 1981.
Penghargaan itu mengukuhkan Annuqayah sebagai pesantren yang memiliki komitmen kuat dalam penyelamatan dan pelestarian lingkungan.
Komitmen tersebut terus dijaga hingga kini oleh Universitas Annuqayah melalui upaya pengembangan hutan kampus sebagai ruang hijau edukatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Wakil Rektor III Universitas Annuqayah, Dr. Ach Khatib, M.Pd, menegaskan bahwa pengembangan hutan kampus menjadi salah satu fokus utama pada tahun 2025. Ia menjelaskan bahwa program ini sejalan dengan tagline “Kampus Tatakrama Berwawasan Lingkungan” serta visi Pondok Pesantren Annuqayah.
Lebih jauh, Dr. Khatib menyampaikan bahwa gagasan ini disambut positif oleh para alumni yang menunjukkan dukungan melalui sumbangan bibit pohon dan satwa khas kepulauan sesuai kebutuhan kampus, mulai dari pohon polay, Bambu Petung, hingga berbagai tanaman perkebunan.
“Kemarin ada tamu dari Sapeken atau Pagerungan, Pak Yunus, alumni Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa. Beliau berkenan menyumbang hewan khas kepulauan ke Hutan Kampus. Dan, ada temannya juga akan menyumbangkan Ayam Hutan dan Ayam Bekisar,” katanya, Senin 24 November 2025 saat ditemui.
Sementara itu, Rektor Universitas Annuqayah, Dr. KH Muhammad Hosnan, M.Pd, menjelaskan bahwa hutan kampus telah diresmikan sejak Desember 2024 oleh Kiai M. Faizi, salah satu Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah.
“Dulu di tahun 2024 saat peresmian hutan kampus, kami menanam pohon mahoni. Tahun ini kita kembangkan untuk tata ruang kampus yang lebih asri melalui penanaman beberapa jenis pohon hasil sumbangan dari alumni dan simpatisan,” ujarnya.
Hingga kini, terdapat 12 orang yang telah menyumbangkan pohon maupun bibitnya yang akan ditanam di lingkungan Universitas Annuqayah dan hutan kampus. Berikut data penyumbang pohon untuk hutan kampus Universitas Annuqayah per Kamis, 20 November 2025:
1. Polay, 2 pohon: KH. Muhaidi (Bindang, Pasean)
2. Ketapang Kencana, 6 pohon: Moh. Bakri (Lenteng)
3. Daun Dolar, KH. A Khazin Abbasi sekeluarga (PP. Annuqayah Lubangsa Tengah)
4. Bambu Petung, KH. A Khazin Abbasi sekeluarga (PP. Annuqayah Lubangsa Tengah)
5. Trembesi, 10 pohon, Bapak Chainur Rasyid, Kadis Pertanian Sumenep (Prenduan, Sumenep)
6. Alpukat, 3 pohon, Bapak Chainur Rasyid, Kadis Pertanian Sumenep (Prenduan, Sumenep)
7. Tabebuya, 5 pohon, Bapak Chainur Rasyid, Kadis Pertanian Sumenep (Prenduan, Sumenep)
8. Klengkeng, 3 pohon, Bapak Chainur Rasyid, Kadis Pertanian Sumenep (Prenduan, Sumenep)
9. Bambu Kuning, 2 rumpun Ahmad Zainal (Mandala, Rubaru)
10. Duwek Pote, 1 pohon, Bapak Faizy (karyawan UA)
11. Bibit Klengkeng, Mundarin, (Karyawan UA)
12. Sekar Jambi, 4 Pohon, Nuris (Karyawan UA)
Penulis : Rusydiyono









