Masyarakat Sumenep Mengawali Ramadhan dengan Tradisi Ter-ater, Berikut Pesan dan Simbol yang Tersirat

Redaksi Nolesa

Senin, 11 Maret 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selesai menunaikan Salat Tarawih jemaah Masjid Nurul Jannah Banuaju Timur Kecamatan Batang-Batang, Sumenep menyantap Ketupat dan Lepet yang diantar warga, Senin malam 11/3/2024 (Foto : nolesa.com)

Selesai menunaikan Salat Tarawih jemaah Masjid Nurul Jannah Banuaju Timur Kecamatan Batang-Batang, Sumenep menyantap Ketupat dan Lepet yang diantar warga, Senin malam 11/3/2024 (Foto : nolesa.com)

Sumenep, NOLESA.com – Salah satu tradisi masyarakat Sumenep, Madura, Jawa Timur dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yakni saling memberi makanan antar tetangga.

Tradisi ini dikenal dengan istilah Ter-ater. Dimana setiap orang akan saling mengantarkan makanan ke tetangga dekat, termasuk sanak famili, juga ke musala atau ke masjid terdekat.

Biasanya, makanan atau kudapan yang diantarkan itu berupa Ketupat, Lepet, dan Serabi atau Apen. Adapula yang ditambah pisang atau kuliner khas lainnya yang ada di tempat itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebiasaan unik menyambut bulan puasa tersebut saat ini masih berlangsung hingga kini. Salah satunya di Desa Banuaju Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Terbukti awal bulan Ramadhan 1445 H, Senin 11 Maret 2024, tradisi itu masih dilakukan oleh warga.

Biasanya, warga di desa tersebut mulai Ter-ater sejak pagi menjelang awal bulan puasa. Sedangkan ke musala atau ke masjid, makanan itu akan diantar sore hari, adapula langsung membawanya ketika akan Salat Tarawih.

Dakim (50) yang merupakan sesepuh di Banuaju Timur menceritakan bahwa kebiasaan saling mengantarkan makanan itu sudah berlangsung lama. Dia mengaku sejak kecil sudah menyaksikan kebiasaan tersebut.

Baca Juga :  Novita Hardini Dorong Ekonomi Kreatif Melalui Pelestarian Budaya

Tujuan dari tradisi tersebut, kata Dakim, berdasarkan cerita pendahulunya, yakni untuk memperat tali silaturahim antar sesama. Sehingga bisa menjalankan ibadah puasa dengan keadaan damai dan penuh kerukunan.

“Ter-ater itu simbol perdamaian, jika sebelumnya ada konflik atau salah paham diharapkan bisa terselesaikan dengan perantara silaturahim dan Ter-ater,” terang Dakim ketika ditemui di kediamannya Senin sore, 11 Maret 2024.

“Sehingga secara fisik dan mental kita benar-benar siap untuk menjalankan ibadah puasa, itu pesan tersirat dari kebiasaan ter-ater,” imbuhnya.

Adapun makna dari tiga jenis kuliner yang diberikan ketika ter-ater itu, lanjut bapak dengan tiga anak ini, Lepet disimbolkan sebagai tongkat, Ketupat dimaknai bekal, sedangkan Serabi atau Apen diartikan sebagai payung.

“Ibarat orang akan bepergian, mereka akan menjalani ibadah puasa dalam kondisi yang benar-benar siap karena sudah membawa tongkat, bekal, dan payung untuk sampai di tempat tujuan,” tutur dia menjelaskan simbol ketiga jenis makanan dalam tradisi ter-ater itu.

Oleh sebab itu, lanjut Dakim, orang-orang terdahulu selalu mengajari anak-anaknya terutama yang perempuan agar bisa membuat ketiga jenis kuliner tersebut.

Baca Juga :  Segudang Alasan Pengangkatan Heru Budi Hartono sebagai Pj Gubernur DKI Jakarta

“Dulu seperti wajib bisa bikin tiga makanan itu terutama perempuan yang sudah baligh,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Nurul Jannah Banuaju Timur, Kiai Nihrawi mengungkapkan makanan apapun termasuk Lepet, Ketupat, dan Apen yang diantarkan warga ke masjid nantinya akan disuguhkan kembali kepada warga setelah menunaikan Salat Tarawih.

“Setelah salat Tarawih jemaah akan menyantap makanan yang diantar itu secara bersama-sama, sehingga awal puasa diawali dengan rasa kebersamaan dan penuh kekompakan,” jelas Kiai Awi sapaan akrabnya.

Karena itu, sebagai guru ngaji penerus perjuangan mertuanya almarhum Kiai Abu Sahma, Kiai Awi mengaku selalu berpesan kepada para santrinya selain tekun belajar ngaji juga kuat mempertahankan tradisi positif yang diwariskan para leluhur. Termasuk ter-ater menyambut bulan puasa yang sudah sejak lama dilakukan sesepuh.

“Jika melihat kondisi saat ini terus terang kami cemas nantinya tradisi semacam ini bisa ditinggalkan oleh generasi muda,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Kiai Awi berharap kepada pemerintah atau pengelola pendidikan supaya pengetahuan tentang tradisi lokal itu menjadi target yang harus ditanamkan pada anak didik.

“Tidak hanya tradisi ter-ater, banyak tradisi khas lainnya yang juga terancam keberlangsungannya semoga ada upaya untuk mengantisipasi,” sebut Kiai Awi dengan nada penuh harap.

Baca Juga :  Bantuan Guru Ngaji Tahun 2023 dari Bupati Fauzi Tuntas Disalurkan

Gayung bersambut, apa yang menjadi kecemasan Kiai Awi tersebut sebenarnya juga menjadi perhatian Bupati Sumenep Haji Achmad Fauzi Wongsojudo. Khususnya kuliner tradisional khas Sumenep.

Terbukti dalam rangkaian Sumenep Calendar of Event 2024, Bupati Haji Fauzi mencantumkan Festival Kuliner Tempo Doeloe. Event ini telah dilaksanakan di depan Pendopo Keraton Sumenep, Minggu 4 Februari 2024.

Festival Kuliner Tempo Doeloe yang diinisiasi Bupati Haji Fauzi itu melibatkan seluruh desa dari 27 kecamatan. Semua peserta wajib menyajikan kuliner khas yang ada di desanya.

Waktu itu, Bupati Haji Fauzi mengungkapkan beberapa target festival tersebut digelar. Selain sebagai sarana edukasi bagi generasi muda agar paham akan warisan leluhurnya, juga untuk memacu perekonomian warga melalui kuliner lokal.

“Tentu dengan mempertahankan kuliner tempo dulu akan berdampak terhadap perekonomian, karena saya yakin banyak orang yang ingin mencicipi dan bernostalgia,” kata Bupati Haji Fauzi kala itu.

“Semoga dengan menampilkan kuliner tempo dulu, kita semua pandai bersyukur dengan serba kecukupan seperti sekarang,” pungkas suami Hj Nia Kurnia.

Penulis : Rusydiyono

Editor : Ahmad Farisi

Berita Terkait

Menko PM Minta BUMN Optimalkan Aset Menganggur untuk Pemberdayaan Masyarakat
Inilah Beragam Program Gubernur Jatim Selama Kunker di Sumenep
Berharap Hujan Segera Turun, Warga Masalembu Gelar Sholat Istisqa
Semarak Hari Santri 2026, DRT Gemar Bersholawat Gelar Festival Banjari Berhadiah Jutaan Rupiah
Pemkab Bangkalan Evaluasi Fasilitas Puskesmas Kamal dan Percepat Program PKG
Sambut Hari Santri dan Hari Jadi Sumenep, ASN dan PPPK Gelar Pembacaan Al-Waqi’ah
Persoalan Aturan Jarak Toko Kelontong, KMY Minta Kepastian Hukum dan Perlindungan UMKM
Wabup Sumenep Minta Kepala Sekolah Seimbangkan Kemajuan Teknologi dan Pendidikan Karakter

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Menko PM Minta BUMN Optimalkan Aset Menganggur untuk Pemberdayaan Masyarakat

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:28 WIB

Inilah Beragam Program Gubernur Jatim Selama Kunker di Sumenep

Selasa, 13 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Berharap Hujan Segera Turun, Warga Masalembu Gelar Sholat Istisqa

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Semarak Hari Santri 2026, DRT Gemar Bersholawat Gelar Festival Banjari Berhadiah Jutaan Rupiah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:04 WIB

Pemkab Bangkalan Evaluasi Fasilitas Puskesmas Kamal dan Percepat Program PKG

Berita Terbaru